Selamat Jalan Mang Undang

Bismillah

Kemarin sepulang solat Jumat dari masjid Mualimin Cigadung, anak saya kasih tahu bahwa Mang Undang telah wafat.

Innalillahi wa inna ilaihir rojiuun.

Kami kaget sekali.

Biasanya Mang Undang solat Jumat di masjid Mualimin juga dan kalau pulang selalu kasih salam sewaktu saya keluar masjid atau beliau menunggu di jalan akuntansi sekedar untuk menyapa, sambil saya menyupir mobil.

Konon kabarnya Jumat pagi Mang Undang setelah mengantar cucunya ke sekolah, balik lagi ke rumah di Jiwanaya Cibeunying Kaler beliau berencana ke Pengalengan.

Undang biasa kalau sendirian ke Pengalengan lebih senang naik motor untuk mengindari macet.

Tujuan ke Pengalengan untuk menengok kakaknya yang kabarnya sedang tidak sehat.

Dari informasi yang didapat di daerah Banjaran mang Undang mengalami kecelakaan lalu lintas, sehingga beliau terluka dan dibawa ke rumah sakit banjaran.

Kejadiannya sekitar pukul 09.30.

Tidak lama kemudian keluarga di Bandung dapat informasi bahwa Mang Undang wafat.

Setelah dimandikan di Banjaran Mang Undang dibawa ke Bandung.

Singkat ceritra setelah sampai di Bandung dan masuk ke rumahnya suasana haru dari pelayat dan lebih keluarganya.

Segera setelah sampai di rumahnya Mang Undang almarhum dimandikan sekali lagi dan dikafani

Istrinya, teh Nani, tentu merasa sedih.

Kedua anak Mang Undang, yaitu Ade dan Aldi dalam perjalanan ke Bandung.

Begitu kedua anak tiba di rumah, suasana rumah penuh dengan tangisan dan tidak lama kemudian Mang Undang dibawa ke Masjid dekat rumah untuk di solatkan.

Sedikit ngobrol dengan ketua DKM Masjid, bahwa Mang Undang sangat berjasa dalam renovasi masjid. Alhamdulillah.

Segera setelah disolatkan jenazah almarhum Mang Undang dibawa ke makam di lingkungan Jiwanaya.

Konon dalam perjalanan ke makam banyak sekali warga yang melayat untuk melepas Mang Undang.

Siapa sih Mang Undang?

Endang Kartika nama sesuai di KTP, tapi kami di rumah biasa memanggil beliau dengan Mang Undang.

Mang Undang bergabung menjadi crew driver mobil di keluarga kami, mungkin 1994-1995. Terus terang saya tidak ingat.

Tugas utamanya menghantar jemput kedua anak ke sekolah Taruna Bakti Bandung.

Setelah kedua anak saya besar dan tugasnya hanya menghantar. Sedangkan pulang mereka prefer naik angkot karena mau main atau jalan dengan teman-temannya.

Tugas Mang Undang beralih menghantar jemput istri saya atau kalau saya di Bandung juga perlu beliau sebagai driver.

Tahun 2012 -2017 ketika istri saya dapat tugas dinas di Jakarta beliau juga ikut ke Jakarta khusus untuk menghantar saya kalau ada keperluan keluar rumah.

Sekitar tahun 2020-2021 beliau mendapat gangguan mata yang awalnya cukup mengganggu untuk tugas membawa kendaraan dan beliau sempat off untuk berobat.

Beliau ditugasi untuk menjaga rumah lama kami di Jalan Akuntansi yang disewakan,

Ada tugas lain yang selama dilakukan beliau, yaitu tugas untuk mengurus mobil . Kapan harus diservis , mengurus perpanjangan STNK BPKB komunikasi dengan RT RW kelurahan dan kecamatan jika kami memerlukan pengurusan administrasi kependudukan.dan lain-lain.

Alhamdulillah kondisi matanya membaik dan bisa mengendarai mobil lagi, beliau kadang-kadang ditugasi menghantar jemput saya di sekitaran Bandung saja dan terutama siang.

Insya Allah Husnul Khotimah.

Mang Undang wafat karena kecelakaan , Insya Allah beliau termasuk syahid yang harus tetap dimandikan.

Beliau kecelakaan dalam perjalanan ke Pengalengan, kampung asal beliau, karena mau menjenguk kakak perempuan yang kabarnya sedang tidak sehat.

Dan last but not least beliau wafat di hari Jumat dan juga dimakamkan bakda asar hari yang sama Jumat.

Saya sampaikan ke putra beliau, jangan lupa mendoakan ayahnya .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah s.a w. bersabda: “Apabila seorang insan (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah segala (pahala) amal kebaiakannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.”

Sekali lagi Innalillahi wa inna ilaihir rojiun.