بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bacaan Takbiran Hari Raya Iedul Fitri dan Iedul Adha
Bacaan nya sama, hanya waktu bertakbirannya yang berbeda
Versi ringkas sekali
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Versi Sedang
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.
Laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar.
Allahu akbar, wa lillaahil hamd.
Versi panjang
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.
Laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar.
Allahu akbar, wa lillaahil hamd.
Biasanya dibaca 3 kali, kemudian lanjut
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
صَدَقَ وَعْدَهُ
وَنَصَرَ عَبْدَهُ
وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar,
lā ilāha illallāh, wallāhu akbar,
Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamd.
Allāhu akbar kabīrā,
wal-ḥamdu lillāhi kathīrā,
wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā.
Lā ilāha illallāh wa lā na‘budu illā iyyāh,
mukhliṣīna lahud-dīna walaw karihal-kāfirūn.
Lā ilāha illallāh waḥdah,
ṣadaqa wa‘dah,
wa naṣara ‘abdah,
wa a‘azza jundah,
wa hazamal-aḥzāba waḥdah.
Lā ilāha illallāh, wallāhu akbar,
Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamd.
Waktu Bertakbiran
Iedul Fitri
Takbiran dilakukan sejak matahari terbenam malam Iedul Fitri alias sejak bakda solat magrib, hingga setelah selesai shalat Idul Fitri.
Iedul Adha
Takbiran boleh dilakukan sejak habis solat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai habis solat asar hari terakhir ayyamul tasyriq yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.
1. Idul Fitri (Takbir Mursal)
Takbiran Idul Fitri bersifat lebih singkat dan biasanya hanya dilakukan sejak matahari terbenam hingga salat Id dimulai.
- Waktu Dimulai: Sejak tenggelamnya matahari pada malam 1 Syawal (malam takbiran).
- Waktu Berakhir: Saat imam memulai salat Idul Fitri.
- Karakteristik: Disebut mursal karena dilakukan di mana saja (masjid, rumah, jalan) tanpa terikat waktu salat fardu.
2. Idul Adha (Takbir Muqayyad)
Takbiran Idul Adha memiliki durasi yang jauh lebih lama, mencakup hari Arafah hingga akhir hari Tasyrik.
- Waktu Dimulai: Sejak waktu Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah).
- Waktu Berakhir: Hingga waktu Ashar pada hari Tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah).
- Karakteristik: Disebut muqayyad karena sangat dianjurkan untuk dibaca setiap selesai salat fardu selama rentang waktu tersebut
Rujukan
Takbir mursal (atau sering disebut takbir mutlaq) memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan tradisi fikih Islam. Berikut adalah acuan utamanya:
1. Acuan dari Al-Qur’an
Landasan utama untuk takbiran Idulfitri adalah Surah Al-Baqarah ayat 185. Di akhir ayat tersebut Allah SWT berfirman:
“…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Para ulama menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
- “Mencukupkan bilangannya”: Merujuk pada penyempurnaan jumlah hari puasa Ramadan.
- “Mengagungkan Allah”: Adalah perintah untuk mengumandangkan takbir sebagai bentuk syukur karena telah menyelesaikan ibadah puasa.
2. Dasar Waktu Pelaksanaan
Karena perintahnya adalah setelah “mencukupkan bilangan puasa”, maka para ulama (khususnya Mazhab Syafi’i) menetapkan:
- Awal Waktu: Dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadan (masuknya tanggal 1 Syawal).
- Akhir Waktu: Terputus ketika imam sudah mulai takbiratul ihram untuk salat Id. Jika seseorang tidak ikut berjamaah, maka batasnya adalah saat ia memulai salat Id sendirian.
3. Mengapa Disebut “Mursal”?
Istilah mursal secara bahasa berarti “lepas” atau “bebas”. Disebut demikian karena:
- Tidak terikat salat: Berbeda dengan takbir muqayyad (Iduladha) yang dibaca khusus setelah salat fardu, takbir mursal dianjurkan dibaca kapan saja dan di mana saja.
4. Perbedaan dengan Iduladha
Meskipun takbir mursal identik dengan Idulfitri, pada Iduladha sebenarnya juga terdapat takbir mursal (yang dibaca di luar waktu salat), namun takbir muqayyad lebih mendominasi karena durasinya yang panjang (hingga akhir hari Tasyrik).
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Semoga bermanfaat
-اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
